A. Pendahuluan
Sekarang ini kita memasuki pada era yang serba modern, pada era globalisasi. Zaman yang serba dimudahkan segala keperluan kita. Tak terkecuali pengaruh-pengaruh globalisasi masuk ke desa-desa. Terbukti sekarang tiap rumah sudah banyak yang mempunyai hp dan motor untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Akan tetapi dengan masuknya zaman modern ini banyak budaya-budaya ataupun kearifan lokal yang mulai luntur. Zaman dahulu pada wakatu magrib hingga isya' anak-anak maupun orang dewasa memadati mushola, langgar dan masjid setempat untuk mengaji, jama'ah sholat maktubah. Tetapi yang terjadi sekarang anak-anak lebih suka menonton televisi dirumah. Lupa dengan mengaji. Ironisnya orang tua mereka pun tidak mengingatkan mereka malah orang tua lebih suka menonton televisi daripada ikut jama'ah ke masjid.
Menjawab problematika tersebut muncullah Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA). Anak-anak mulai senang mengaji dengan ustadz-ustadz kreatif di TPA. Tak jarang juga yang enggan atau malas mengaji di TPA karena lebih suka untuk bermain. Dan inilah tantangan-tantangan para ustadz dan ustadzah untuk bisa mengajak anak-anak suka mengaji Al Qu'an.
B. Gambaran Umum dan Sejarah
TPA yang berada di Desa Kalimulyo Kecamatan Jakenan Kabupaten Pati bernama TPA "AL ROSYAD". Tepatnya di dukuh Kijingan RT 004 RW 001. Direction Desa Kalimulyo sebelah utara daari kecamatan tepatnya utara desa glonggong. Kalau dari Jalan Pantura arah Kabupaten Pati ke Juwana sampai ke pertigaan Guyangan kekiri hingga 3 km, disitu akan ditemui desa yang permai Desa Kalimulyo.
Pada waktu itu tempat belajar mengajar Al Qur'an berpusat di masjid, Masjid Jami' Baitun Nur Kalimulyo. Dengan santri yang berjumlah seitar 80 santri yang rata-rata memang asli dari desa Kalimulyo. Dan ustadz-ustadzahnya ada sekitar empat asatidz. Dalam perkembangannya lama kelamaan TPA menjadi sepi, berkurang hingga setengahnya. Bukan karena tidak adak anak-anak di desa akan tetapi anak-anak mulai malas untuk mengaji di TPA, juga para orang tua yang terkadang kurang memperhatikan pendidikan membaca Al Qur'an anaknya. Juga pendidikan Al Qur'an di TPA seakan-akan terpecah menjadi dua. Satu di masjid dan yang kedua di mushollah An Nur oleh Pak Masykur. Pak Masykur juga berawal dari kegelisahannya karena anak-anak yang berkeliaran bermain tanpa adanya bimbingan belajar Al Qur'an.
Berangkat dari situ para pengurus mulai memikirkan agar anak-anak senang mengaji lagi di TPA. Di pelopori oleh Pak Moden Dusun Kijingan Ustadz Ahmad Ridwan berinisiatif untuk membangun gedung baru. Setelah gagasan ini di wacanakan kepada masyakarakat ternyata oleh masyarakat memberikan respon yang sangat baik. Pembangunan tak berjalan begitu lama karena dana dari masyarakat terus mengalir. Ada yang menyumbang batu bata sampai jadi, pasir sebutuhnya, semen berapa puluh dan lain sebagainya. Hingga awal bulan Oktober 2012 gedung TPA yang baru pun sudah jadi dan bisa diguakan.
Gedung TPA yang baru ini akan diresmikan berbarengan dengan acara maulidan, maulidurrosul pada 12 Robi'ul Awal 1434 H. atau bertepatan pada tanggal 24 Januari 2013. Akhir bulan Oktober 2012 yang lalu gedung TPA sudah digunakan. Dengan menejemen baru, pengorganisasian yang baru begitu juga dengan metode pengajaran yang dipakai. Dengan gedung baru fasilitas baru ternyata memang anak-anak mulai tertarik kembali mengaji di TPA dan kesadaran para orang tua tentang pendidikan Al Qur'an anaknya mulai tumbuh dengan ikut serta membangun gedung baru tersebut.
Ustadz-ustadzah yang ada di TPA Al Rosyad ada 14 asatidz diantanya Pak Ahmad Ridwan, Pak Muin, Pak Warno, Pak Masykur, Bu Likah, Bu Naim, Bu Mun'amah. Untuk murid-murid terdata awal Desember 2012 ada 104 murid, dari berbagai kelas. Pendaftarn murid membayar biaya registrasi sebesar Rp. 30.000,- dan bisyaroh asatidz sebesar Rp. 12.000,- per bulan.
C. Metode Pengajaran dan Kendala yang dihadapi
Metode pengajaran Al Qur'an di TPA Ar Rosyad yang dipakai adalah metode "Yanbu'a". Kenapa dipilih metode yanbu'a bukan qoro'ati atau yang lain? Menurut Pak Ahmad Ridwan: "karena kalau metode qiro'ati astadznya harus mempunyai syahadah dahulu untuk bisa mengajar, sedangkan metode yanbu'a siapapun bisa mengajar asalkan dapat membaca Al Qur'an dengan baik dan benar juga bisa mengikuti pembinaan setiap bulannya." Dengan asatidz yang berjumlah 14 asatidz, setiap harinya ada 9 asatidz yang mengajar. Dengan pembelajaran 5 hari per minggu.
Menurut Pak Ahmad Ridwan bahwasanya hingga saat belum ada kendala yang dihadapi maupun masalah-masalah yang ada karena pembelajaran baru sekitar satu bulan. Pembelajaran di gedung ini hingga awal Desember ini baru berjalan selama 1 bulan. Sehingga masih ada yang mungkin sekiranya perlu dibenahi. Mulai dari sistem pembelajaran oleh asatidznya sehingga pembelajaran itu bisa dikatakan menarik oleh para santri. Juga para wali santri menginginkan pembelajran diadakan selama satu minggu full karena sebagian wali santri merasa keberatan dengan bisyaroh bulanan sebesar Rp. 12.000,-.
D. Penyelesaian dari Penulis
Pengalaman mengajar di TPA ketika dulu masih di masjid bisa menjadi pembelajaran sehingga bisa menjadikan TPA yang dengan format baru ini bisa berjalan dengan baik. Menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menarik, itu yang diharapkan oleh para santri. Membuat para santri itu senang dengan mengaji dan suka. Pembelajan juga jangan terlalu sepaneng artinya belajar mengaji hanya mengaji saja tanpa ada diselingi dengan kekreatifan para asatidz. Bolehlah sebelum mengaji membaca do'a-do'a harian, menyanyi lagu-lagu anak-anak yang islami yang mengajak anak senang mengaji.
Aspirasi masyarakat ataupun wali santri setidaknya menjadi perhatian para pengurus dan asatidz TPA. Apresiasi masyarakat ketika membangun gedung baru ini harus dengan diimbangi dengan kredibilitas yang tinggi oleh para pengurus TPA. Mungkin tentang menejemen keuangannya yang tidak hanya mengandalkan dari wali santri tiap bulannya akan tetapi bisa membuat koprasi ataupun sejenisnya didalamnya. Sehingga bisa lebih mandiri juga mengurangi beban wali santri.
Terus semangat untuk para santri-santri TPA "AR ROSYAD" Kalimulyo. Kalian akan menjadi penerus dan yang akan mengembangkan Desa Kalimulyo khususnya Dusun Kijingan. Untuk para pengurus dan asatidz semoga amal jariah kalian diterima disisi_Nya dengan tulus ikhlas melayani masyarakat yaitu mengajarkan anak-anak membaca Al Qur'an. Betapa mulianya seorang yang mengajarkan Al Qur'an karena membaca Al Qur'an diberikan kemuliaan tiap hurufnya sepuluh kemuliaan. Juga kepada masyarakat Dusun Kijingan untuk terus memotifasi anak-anak kalian untuk dapat membaca Al Qur'an. Membudayakan mengaji Al Qur'an dalam keeseharian, dengan terus membaca Al Qur'an setiap hari.

0 Comments: